Tanaman ini adalah tanaman lamtoro atau pete cina atau jawa orang menyebutnya petet. Tanaman ini sebenarnya tanaman eksotis atau bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini memiliki nilai protein yang sangat tinggi sekitar 30% ini setara dengan indigo vera misalnya.

Sebenarnya tanaman ini juga sangat familiar dan tanaman andalan buat peternak di NTT dan NTB, dengan kandungan protein yang sangat tinggi mampu mendongkrak nilai nutrisi dari nilai pakan yang diberikan, di daerag NTB dan NTT dengan cuaca yang sangat panas dan ekstrim hijauan disana adalah rumput-rumput lapangan yang kandungan proteiinnya sangat rendah.

Inilah alternatif untuk meningkatkan dan di budidaya untuk meningkatkan tanaman di NTT. Disana du kembangkan dengan skala yang cukup luas. Satu oeternak biasanya di tanaman dengan lahan +-10 hektar untuk di berikan kepada sapi-sapi yg siap untuk di jual.

Setelah mereka tangkap sapi ini dari lapangan atau lahan pengembalaan di masukkan ke kandang, disitu lah diberikan tanaman-tanaman ini dengan tambahan rumput-rumput lapangan td.

Sejarah Tanaman Lamtoro

Sebenarnya tanaman ini sendiri berasal dari Amerika Tengah, ini adalah tanaman untuk pelindung di perkebunan karena jenis tanaman ini termasuk legum, atau kacang-kacangan yang salah satu kelebihannya adalah mampu menangkap N dari udara untuk menyuburkan tanah makanya tidak heran tanmn jenis ini mampu hijau sepanjang tahun.

Meskipun cuaca terik, panas, kemarau, tanaman ini tetep hijau, buahnya juga sangat tinggi proteinnya. Ini juga bisa di konsumsi seperti di Jawa dan Sunda buahnya di pakai untuk masakan tertentu.

Zat Antinutrisi Lamtoro

Selain nilai nutrisi yang tinggi td. Dia juga mengandung antinutrisi namanya adalah memosin, sianida (HCN) dan tanin. Jangan heran ketika ternak-ternak diberikan tanaman ini reaksi pertama nya adalah mencret. Ini adalah reaksi dari antinutrisi itu. Dalam jumlah yang berlebih bisa menimbulkan keracunan dan kematian. Kita tahu bahwa sianida itu sangat beracun kemudian tanin juga menyebabkan menurunnya palatabilitas atau tingkat kesukaan ternak pada pakan.

Untuk pemberian lamtoro sebaiknya bertahap dan di campur dengan pakan yang lain. Untuk menghindari atau untuk mengurangi resiko zat-zat anti nutrisi td. Berapa banyakkan yang di rekomendasikan untuk diberikan dalam ransum makanan. Kalau untuk sapi lebih kurang pemberian 5-10 kg.

Selebihnya harus di tambahkan dengan bahan-bahan yang lain. Kalau untuk ternak domba, kambing pemberian sekitar 0,5 kg. Zat antinutrisi itu sebagian besar terkandung dalam daun-daun yang masih muda.

Antinutrisi di daun yang masih mudah zat antinutrisinya masih tinggi, cara mengurangi resiko zat td sebaiknya diberikan dalam kondisi layu. Yg jika diberikan bisa menyebabkan keracunan dan kembung juga bisa, dalam kondisi yang parah bisa menimbulkan kematian.

Sebenarnya tanaman ini adalah tanaman peneduh, di datangkan dari Amerika Tengah oleh bangsa asing waktu sedang di kembangkan besar-besaran tanaman perkebunan di Indonesia.

Tidak heran kalau jalan-jalan ke daerah subang di tengah-tengah hamparan kebun teh biasanya ada tanaman lamtoro ini. Di perkebunan kopi banyak juga ditanam sebagai tanaman peneduh.

Salah satu mengurangi resiko keracunan pada lamtoro ini karena adanya zat antinutrisi td selain di berikan dalam kondisi layu atau di layukan terlebih dahulu cara yang lain adalah dengan menepungkan dan ketika di lakukan penepungan ini harus dikeringkan terlebib dahulu. Saat proses pengeringan itulah racun-racun td akan menguap sehingga lebih aman untuk diberikan ke ternak.

Tepung td bisa di campur dengan bahan lainnya dengan tambah konsentrat lalu berikan ke ternak.

Tagged in:

About the Author

Peternak

Berbagi Informasi mulai dari Cara Mengobati Ayam, Harga Ayam, Manajemen, Kesehatan Ayam, Berbagai macam penyakit, dan info-info menarik lainnya.

View All Articles